Saturday, November 24, 2018

Guru di Era Milenial

Menarik membaca salah satu tulisan opini di Harian Kompas edisi Sabtu 8 September 2018, dengan judul Guru di Era Milenial. Tema yang diangkat dalam opini tersebut sangat sederhana tapi punya value proximity di tengah masih lesunya pendidikan kita hari ini.

Generasi Game Online

Game onlie okezone
Foto ilustrasi main game (sumber: internet)
Teknologi adalah keniscayaan. Kita tak bisa menghindar dari kehadirannya. Teknologi mempunyai sifat revolusioner artinya bisa merubah segala aspek kehidupan. Namun teknologi tak bisa menjadi baik atau buruk, itu bergantung kepada siapa yang menggunakannya. Teknologi hanyalah alat yang membantu manusia mencapai sesuatu.

Film Pendek di Youtube

Yuutp
Foto: screenshot Youtube Eka Gustiwana

Saat waktu senggang saya iseng-iseng membuka YouTube dan mencari film pendek. Tak sengaja dalam pencarian tersebut, ada sebuah film pendek (short movie) di Channel Eka Gustiwana. Kalau yang tak kenal, dia itu seorang komposer musik yang pernah viral karena memotong pidato para elite negeri menjadi sebuah lagu.

Berkunjung ke Kebun Kopi Manglayang


Kebun Kopi Manglayang
Foto: Adi Permana
 

“Kopi Manglayang punya citarasa yang unik. Sebab tumbuh di antara pepohonan pinus. Aromanya juga sedap, apalagi jika ‘disuruput‘ saat senja”






Sejauh mata memandang hamparan tanaman kopi membentang luas di antara pepohonan pinus di kaki Gunung Manglayang. Tanah tempat berpijak masih basah karena hujan semalam. Angin yang masuk di antara dedaunan mengantarkan oksigen segar untuk dihirup.

Monday, October 10, 2016

Sukabumi, dan Cerita Bersama Wartawan Media Lokal


Kita barangkali sering mendengar istilah ini, “Belajar bisa didapat dari siapa saja, dan dari hal yang sederhana.” Jika ditelaah lebih mendalam, ungkapan itu sebetulnya mengandung nilai filosofis yang dalam, bahwa kita sebagai manusia harus terus belajar, walau dalam kondisi apapun, di mana pun, dan dengan siapa pun. Tentu belajar tentang kebermanfaatan atau hal baik.

Nah, ini adalah tulisan saya tentang sebuah pengalaman sederhana menjadi jurnalis di media lokal Sukabumi.

Saya tergolong masih “ingusan” untuk persoalan terjun ke lapangan sebagai jurnalis di media mainstream. Di kampus, saya memang cukup aktif sebagai salah satu pengurus sebuah lembaga pers mahasiswa. Namun hal itu jelas berbeda dengan suasana lapangan sebenarnya dunia wartawan.

Baru-baru ini, saya diberi kesempatan untuk menitih karir sebagai reporter di portal berita sukabumiupdate.com. Saya sebetulnya setengah hati untuk hijrah dari Bandung ke Sukabumi. Mengingat di sana tidak ada relasi wartawan satu pun, dan juga tak terlalu hapal medan liputan. Atau istilah beken di kalangan wartawan, tak kenal pemetaan wilayah.

Saya coba memberanikan diri. Ikhtiar tetap harus dilakukan daripada tidak ada kegiatan setelah lulus kuliah. Daripada nunggu yang tak pasti (panggilan kerja), mending ambil saja kesempatan yang ada. Toh yang namanya hidup harus berproses, mesti dimulai dari nol. Begitupun karir menjadi wartawan. Sangat jarang bagi seorang fresh graduate macam saya, “ujug-ujug” nangkring di media masa nasioanl seperti Kompas, Tempo, Bisnis Indonesia, dan lainnya.

Redaktur saya kang Fitriansyah atau dikenal sebutan “Fit” menempatkan saya di desk Kota Sukabumi. Waktu itu, pihak media menyambut hangat kehadiran saya di sana. Sekedar informasi, sukabumiupdate.com merupakan media start up yang terbilang keren. Baru kira-kira dua bulan berdiri, ratting alexa.com sudah tembus 2.000 (Indonesia). Rata-rata pembacanya, kata kang Fit sehari bisa sampai 25.000 pembaca. Waw, kata saya, ini media meskipun baru lahir cukup potensial dan kuat bersejajar dengan media-media online lain setempat.

Hari pertama bergabung di media itu cukup berkesan. Saya langsung diajak ikut aksi solidaritas bersama para wartawan kontributor di Sukabumi. Kenapa demikian, sebab saat itu sedang booming isu pemukulan oknum TNI kepada kontributor NET TV di Madiun. Seorang jurnalis kontributor NET TV Sukabumi, Panji ikut membantu secara moril dengan mengadakan aksi solidaritas di Sukabumi.

Saat itulah momen yang pas bagi saya untuk berkenalan dengan jurnalis-jurnalis di Sukabumi. Ternyata daerah Sukabumi punya sisi jual berita yang bagus juga, wartawan di sini cukup banyak juga. Hampir sebagaian media nasioanl punya kontributor Sukabumi seperti Kompas TV, Kompas.com, Republika, Tempo, Net TV, RTV, RCTI (MNC) dan lainnya. Sama kang Fit saya pun disuruh langsung menulis aksi itu dan dimuat sebagai berita pertama saya di sukabumiupdate.com hehe. Lumayan.

Hari-hari berikutnya, saya jalani dengan lancer beberapa liputan. Tentunya, namanya wartawan di daerah isu-isu bagus amat jarang. Paling yang paling bagus rattingnya adalah berita tentang bencana, dan kriminal. Sisanya kita mesit pandai-pandai mencari isu yang bagus. Tapi beruntung bagi saya waktu itu, tiap hari selalu ada berkah dari setiap musibah. Istilanya, mencari berkah dari musibah.

Belajar dari Pak Budiyanto
Perkenalkan, jurnalis yang satu ini bernama Budiyanto. Saya biasa sebut beliau Pak Budi karena sudah senior (usia), dan pengalamannya sudah banyak. Perkenalan pertama saya sama beliau adalah ketika sedang meliput bersama kasus vaksinasi. Soal kasusnya, baca saja di sukabumiupdate yah hehe. Beliau ini tampilan nyentrik, tak seperti wartawan kebanyakan. Tubuhnya tambun, berkumis, berjanggot, rambut gondorng, berkacama, dan selalu berpakaian kummel. Mungkin kalau Anda kenal sepintas, mungkin kalian akan mengira beliau wartawan media Tempo (Tempo nulis- tempo tidak).

Tapi justru sebaliknya, dia seperti bergelar “kasepuhan” di kalangan jurnalis di Sukabumi. Pak Budi saya pikir orangnya cukup kritis, komunikasinya bagus, dan punya relasi yang banyak. Beberapa kali liputan ke tempat baru, selalu saja ada satu-dua orang dia kenal. Lalu ngobrol panjang soal a, b, c , d bla bla. Aduh tapi saya lupa ngobrol lebih dalam umurnya berapa, dan punya anak berapa. Penting gak sih, enggak terlalu ya. Yang penting soal Pak Budi ya pada cerita berikut ini.

Oke. Pak Budi adalah kontributor Kompas.com. Kalau tidak salah, untuk kontributor Kompas.com dibayarnya per berita yakni Rp 30.000. Perlu kalian ketahui, HU Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV itu berbeda manajemen. Jadi gaji mereka pastilah berbeda-berbeda.

Saya sebenarnya baru tiga kali liputan bareng beliau. Tapi banyak ilmu yang sudah bisa diserap. Terutama tentang melobi, ngobrol atau komunikasi. Wartawan itu ternyata modal utama yang harus dimiliki selain bisa menulis berita adalah melobi. Karena dari situlah data untuk bahan tulisan (untuk wartawan tulis) didapat. Beberapa kali liputan, beliah lah yang selalu menjadi orang pertama yang membuka pembicaraan dengan narasumber. Saya jujur tidak terlalu berani, sebab kata Pa Budi, untuk urusan konfirmasi isu-isu sensitive hendaknya diawali oleh media yang punya pengaruh. Selain pak Budi kadang sama Kang Panji Net TV, dan Abang dari Kompas TV.

Enaknya jika liputan bareng wartawan media nasional, adalah penerimaan yang baik dari narasumber, dan akses yang gampang.  Masih soal liputan kasus vaksinasi, saya bersama rekan-rekan wartawan lain mencoba konfirmasi ke daerah yang lumayan jauh dari Kota Sukabumi. Bahkan sampai saya harus lintas desk ke Kabupaten Sukabumi untuk bertemu Kepada Dinkes di sana.

Saat perburuan narasumber itulah, saya mendapat sebuah trik ala Pak Budi untuk tembus ke ruangan narasumber. Jadi ceritanya, ketika itu, kami kesulitan untuk menghubungi kepada Dinkes Kab Sukabumi, Nomor teleponnya tiba-tiba mendadak tidak aktif. Akhirnya, pak Budi mengeluarkan triknya, yakni datang langsung ke kantor Dinkes. Tiba di kantor, kita ngobrol soal rencana liputan ke satpam. Namun satpam itu berdalih, tidak melihat keberadaan narasumber yang sedang dicari. Pak Budi kemudian menelpon, dan ternyata tersambung. Kata Pa Budi, kepada Satpam kita disuruh nunggu di ruangannya.

Bersama rekan wartawan lainnya, kita merasa heran. Kenapa sama Pak Budi nomornya aktif, sementara tadi di telpon tidak aktif. Pak Budi senyum-senyum kecil mencurigakan. Haha ternyata yang dia lakukan itu trik untuk mengelabui petugas satpam. Dengan begitu, kendati narasumber susah membuat jadwal, kita sudah menunggu di ruangannya. Lumayan cerdas, sampai-sampai kami pun yang jadi wartawannya juga ikut tertipu. Akhirnya tak lama berselang, narasumber sudah datang, dan sedikit merasa kaget atas kedatangan kami. Mau tidak mau, dia tak bisa nolak, dan langsung menerima kedatangan kami untuk dimintai konfirmasi.

Membangun Jaringan Lewat Nongkrong
Bagi seorang wartawan baru, relasi dengan wartawan lain pasti masih sedikit. Makanya kita mesti pandai-pandai memperoleh relasi itu. Salah satu caranya yakni dengan kita SKSD (Sok Kenal Sok Deket). Tapi saya tergolong orang yang kurang bisa begitu. Trik saya adalah dengan nongkrong bareng, dan traktir ngopi. Memang perlu sedikit modal, tapi kalau tidak begitu, arus informasi liputan bisa susah. Intinya harus sering ngumpul bareng dengan wartawan lain.

Kebetulan, di Kota Sukabumi ada salah satu tempat nongkrong para wartawan namanya Bude. Pertama kali ke tempat itu, saya pikir wartawan di Sukabumi cukup hedon. Karena tempat itu tidak lain sebuah kafe. Tapi ternyata bukan di kafe-nya melainkan di samping kafe ada sebuah warung kopi kecil, dan sebuah gerobak gorengan. Biasanya wartawan sering melepas lelah di sana. Ngopi bareng sambil ngobrol ngaler ngidul.

Kata Pa Budi, tempat itu dulunya warung nasi. Nama pemiliknya biasa dipanggil Bude. Di sana juga ada warnet. Letaknya lumayan strategis tepat di tengah-tengah kota. Cukup representatif untuk wartawan tulis dan tv mengolah bahan setelah beres liputan. Tapi sayang, kini tempat itu dibeli oleh orang Jakarta untuk dibikin kafe. Karena barangkali sudah punya nama, dan tidak ada tempat lain, sampai sekarang tempat itu masih tetap dijadikan lokasi ngumpul para wartawan.

Saya juga walaupun masih baru, selalu nongkrong di sana setelah beres liputan. Enak tidak enak, suka tidak suka, dengan begitu saya bisa lebih dekat dengan wartawan lain.

Selain nongkrong, salah satu cara agar bisa dekat dengan wartawan lain adalah men-cc berita hasil liputan ke wartawan lain. Misalnya, saya punya rekaman narasumber, nah kalau ada wartawan lain telat kita tawarkan rekaman saya. Atau kalau ada yang minta bahan, jangan pelit untuk ngasih. Sebab nanti suatu saat, kita pun bisa telat datang dan tak punya bahan. Intinya saling membantu satu sama lain. Karena kita juga tahu susah senangnya jadi wartawan seperti apa.

Tapi memang, prinsip ketergantungan pada wartawan lain buat minta bahan jangan terlalu sering dilakukan. Sebab bisa membuat kita tak produktif liputan, dan jadi pemalas. Fenomena seperti ini memang sudah tak aneh lagi. Bahkan tidak hanya bahan tulis, ternyata sistem minta bahan video untuk TV juga ada.

Selain itu, sebetulnya ada banyak pengalaman lain saat menjadi jurnalis media lokal selama satu minggu ini. Saya pun minta maaf kepada Kang Fit karena baru seminggu liputan sudah ijin ke Bandung lagi karena ada yang harus diurus, dan kebetulan sedang ada panggilan kerja media di Bandung. Oke Sukabumi, ini bukan perpisahan, sampai ketemu lagi, terima kasih atas pengalamannya.

Akirnya saya ingin mengatakan, proses belajar yang efektif itu tidak hanya melulu di kelas. Tapi harus ditopang juga dengan pengalaman di luar kelas. Selamat mencoba jadi wartawan, mari kita liputan lagi. Belajarlah terus sampai mati!

Thursday, July 14, 2016

Pasar Tanggeung, Relokasi, dan Suara Hati Pedagang

Akhir-akhir ini, wacana relokasi pasar dan penggusuran sering menghiasi pemberitaan media massa. Terutama terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Alasannya tidak lain karena demi keindahan (red: kebersihan) dan menghapus kemacetan.

Seolah tidak mau kalah, di sebuah kampung yang jauh dari perkotaan, relokasi juga terjadi. Tepatnya terjadi di Desa Tanggeung, Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur. Semula, kawasan terminal Tanggeung dan sebagian daerah Desa Kertajaya setiap Senin dan Kamis selalu terdapat pasar tumpah. Kegiatan tersebut sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun silam.

Semenjak ibu saya lahir, dan sekarang berusia 50 tahun, pasar tumpah di Tanggeung sudah ada. Namun sekarang, kehadiran pasar tumpah di Tanggeung harus rela direlokasi. Kehadiran pasar sebetulnya sudah melekat dalam keseharian masyarakat di sini. Biasanya banyak orang memanfaatkan kehadiran pasar tersebut sebagai sumber mencari rezeki. Perputaran uang dengan sekala besar terjadi di pasar ini. Mulai dari tukang ojeg, pedagang asin, sayur, buah-buahan, pakaian, toko, sembako, kuli panggul, tukang parkir, warung nasi, dan pemerintah itu sendiri. Bayangkan, banyak orang tentunya menggantungkan hidupnya di pasar tumpah Tanggeung.

Kini para pedagang yang biasa memasarkan dagangannya di pinggir jalan, harus rela pindah lapak. Pemerintah setempat sudah membuat area khusus bagi para pedagang untuk berdagang. Namun beberepa kali direlokasi, masih saja ada sejumlah pedagang yang “ngeyel” berjualan di area terlarang, yaitu di bahu jalan di perbatasan antara Desa Tanggeung dan Desa Kertajaya.

Banyak pedagang berasalasan, tempat yang sempit, dan kurangnya pemasukan, membuat mereka ogah untuk pindah. Termasuk yang dialami ibu saya. Biasanya ia sering memanfaatkan pasar tumpah Senin dan Kamis untuk berjualan makanan. Pendapatannya ya, lumayan bisa menghidupi tiga orang anak.

Kebijakan pemindahan area lokasi pasar Tanggeung berdasarkan yang saya amati, mengacu pada Perundangan-undangan tentang Ketertiban dan Kemanan Berlalulintas. Polisi adalah pihak yang paling semangat untuk merelokasi para pedagang. Berkali-kali mereka mengajak para pedagang untuk pindah. Tapi saya tidak mau suudzon dari relokasi, apakah aparat keamanan mendapat jatah atau tidak. Saya acungi jempol, sebab kali ini relokasi berlangsung tanpa kekerasan. Walaupun banyak selentingan, pihak terkait bisa itu Polisi atau Satpol PP atau yang lainnya, sudah “pasang kuda-kuda” akan melakukan tindakan represif, kalau ada pedangang yang keukeuh tak mau relokasi. Yah, wong cilik macam kami, takutlah diburak-barik petugas.

Menurut informasi yang saya dapat, kehadiran pasar tumpah di Tanggeung menimbulkan kemacetan karena terganggunya lalu lintas kendaraan dari arah Kertajaya ke Desa Tanggeung.

Ya itu memang benar. Akan tetapi sebetulnya ada alternatif jalan melalui Pengkolan Beureum ke Pasko. Cuman, salah pemerintah sendiri ogah memperbaiki jalan tersebut sehingga rusak dan susah dilalui kendaraan. Baiklah, mari kita sejenak tinjau keberadaan pasar tumpah di kota-kota besar. Setahu saya, pasar tumpah yang tidak setiap hari terjadi itu, juga marak di Bandung. Misalnya, di Soreang, setiap hari Minggu ada pasar tumpah, di Cibiru juga ada pasar tumpah di daerah dekat Manglayang, Dago, beberapa daerah di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, dan daerah lainnya.

Nyatanya, di kota-kota besar, keberadaan pasar tumpah juga ada. Bahkan menghiasi jalan-jalan protokol. Lantas mengapa di Tanggeung, keberadaan pasar tumpah begitu dikecam sampai-sampai harus direlokasi? Kira-kira itulah pertanyaan saya selama ini dan sejumlah pedagang lainnya.

Jika saya lihat dari sudut pandang subjektif, jelas relokasi pasar Tanggeung menimbulkan kurangnya pendapatan dari para pedagang termasuk yang dirasakan ibu saya belakang ini. Namun secara objektif, saya harus mengatakan bahwa langkah pemerintah setempat sudah benar. Akan tetapi kurang tepat.

Alasannya yang pertama, pemerintah melupakan situasi dan kondisi tempat di mana relokasi pasar itu terjadi. Misalnya seperti rekayasa lalu lintas. Bagi saya asumsi bahwa dengan merelokasi pasar menimbulkan ketertiban lalu lintas tidak begitu kuat, sebab tetap selama pasar ada, aktivitas kendaraan akan terpusat di pasar, dengan begitu, jumlah kendaraan akan memadat dan menimbulkan kemacetan. Belum lagi yang parkir liar. Mau tidak mau, ya tetap kendaraan terparkir di bahu jalan, sebab tidak ada lagi tempat untuk parkir kendaraan.

Kedua, banyak pedagang dan pembeli yang mengeluhkan tempat relokasi pasar kurang strategis dan tempatnya terlalu kecil untuk menampung puluhan pedagang. Belum lagi, ekses dari itu yakni pemasukan yang menjadi sedikit. Beda halnya ketika pasar tumpah di bahu jalan, kadang ada yang sampai habis dagangannya dengan omzet puluhan juta. Mungkin ini baru ujicoba sih, lama-lama pedagang dan pembeli akan terbiasa dengan kondisi itu. Tapi mungkin ya.

Ketiga, menurut saya relokasi pasar Tanggeung telah memonopoli pendapatan dari dua desa yang biasanya menjadi langganan pasar tumpah di Tanggeung. Tentu saja, dengan relokasi ke wilayah Desa Tanggeung, membuat pemasuka terhadap Desa Kertajaya tidak ada. Padahal Desa Kertajaya sudah langganan tempat para pedagang berjualan bertahun-tahun. Harusnya menurut saya, ada pembagian tempat antara dua desa tersebut. Sehingga pemasukan terhadap kas desa tetap ada. Bukan malah, Desa Kertajaya hanya mendapat “ampas” karena pedagang dan pembeli kerap kali parkir di wilayah Kertajaya.

Entahlah, dalam sebuah sistem dan kebijakan, memang tidak ada yang sempurna. Pro dan kontra kerap kali terjadi. Tugas yang harus dilakukan selaku pengelola pasar sekarang adalah mengevaluasi apa yang sudah terjadi. Bukan semata “namprak” memunguat biaya sewa tempat. Ya, pada akhirnya, tulisan ini hanya sekadar memuat opini yang berserakan dari para pelaku usaha seperti tukang ojeg, pedagang, pembeliyang sering memanfaatkan kehadiran pasar. Termasuk dari ibu saya sendiri, dan pak Lurah. Tidak ada sekecil pun rasa tendensius pada pihak manapun. Seperti kata Pram, kita mesti adil sejak dalam pikiran.

Terima kasih…

Wednesday, July 13, 2016

Merawat Ingatan di Rawa Sukamanah



Mandi di sungai, dan di rawa. Main layangan di terik matahari, sepedahan sampai kaki pada lecet. Sebagian ingatan di kala kecil itu paling membekas dalam ingatan saya. Namun dari sekian banyak kenangan di waktu bocah itu, saya kerucutkan pada kenangan bermain di rawa.

Ya, di Tanggeung, tempat tinggal saya punya sebuah rawa, dengan nama Rawa Sukamanah. Warna airnya biru kehijau-hijauan. Di sebelah utaranya di kelilingi pegunungan dan pesawahan. Di sisi selatan adalah rumah warga.

Biasanya mayoritas aktivitas masyarakat di sekitar rawa adalah memancing. Tradisi dibalut hobi ini terus turun temurun sampai sekarang. Anehnya, bukan hasil yang diincar tapi proses mendapatkan hasil berupa ikan itu sendiri. Padahal ikan hasil tangkapan para pemancing tak besar-besar amat, pun ikannya pada kecil. Tapi mereka selalu bilang “da ieumah karesep”.

Filosofi para pemancing terkadang di luar nalar. Mereka rela dari pagi sampai ketemu pagi hanya nongkrong di pinggir rawa. Memelototi “umbul-umbul” mereka apakah ada ikan yang makan ikan atau tidak.

Tapi saya tidak melakukan hal itu. Jujur saja mancing bukanlah hobi saya, karena sejak dulu saya tidak bisa memancing. Yang sering saya lakukan di Rawa Sukamanah ialah renang dan mencari Kijing atau Remis.

Kalian tentu tahu kan apa itu Kijing dan Remis. Itu adalah hewan sekeluarga dengan kerang, namun hidupnya biasanya di rawa-rawa. Renang di rawa adalah hal yang mengasyikan. Beda dengan di sungai, resiko tenggelam di rawa lebih kecil. Melalui kegiatan yang biasanya dilakukan  saat libur sekolah inilah membuat saya merindukan masa-masa kecil dulu.

Seorang pemancing sedang melakukan aktivias memancing di Rawa Sukamanah. Tempat ini memang seringkali dijadikan objek memancing bagi warga sekitar.

Merawat Ingatan

Libur hari raya Idhul Fitri, biasanya dijadikan momen untuk berlibur. Sebagai lagi, memilih untuk kumpul barang bersama teman lama di kampong. Termasuk yang dilakukan oleh saya bersama teman-teman SD dulu. Momen lebaran, biasanya mereka selalu mudik, dan di saat itulah biasanya kita sering berkumpul untuk sekedar “ngaliwet” atau kongkow.

Kali ini, kami berinisiatif untuk mencari tempat kumpul di sekitaran Tanggeung. Tempat itu jatuh pada Rawa Sukamanah. Lokasinya tidak jauh dari terminal Tanggeung, hanya saja jalannya yang kurang mulus membuat perjalanan jadi lama. Di Rawa Sukamanah merupakan tempat yang asyik untuk menyendiri. Suasananya sepi, jauh dari hingar bingar. Cocoklah buat muda-mudi yang sedang menjalin asmara. Eits hati-hati, jangan kebablasan, ingat syariat Islam!

Waktu kecil saya biasanya ke sini bersama rombongan anak-anak yang lain menggunakan motor. Atau biasanya sambil lari pagi di hari Minggu. Tempat favorit di Rawa Sukamanah ialah jembatan dari pipa besi. BIasanya saya sering mandi dan mencari Kijing di sini. Dulu sih Kijing masih banyak di jumpai, cara ngambilnya gampang-gampang susah. Kita hanya perlu meraba dengan kaki mencari Kijing, kalau sudah terasa, baru diambil oleh tangan. Kadang hasilnya bisa dapat sekarung, atau sekeresek saja. Tergantung dari seberapa kuat kita lama berendam di dalam air.

Di Rawa Sukamanah, kita juga bisa bermain rakit-rakitan ke tengah rawa. Asik bukan!

Konon, ada yang pernah dapat Kijing sebesar piring. Tapi ya, itu memang harus dilakukan agak ke tengah rawa. Resikonya adalah tenggelam karena makin ke tengah, main dalam. Kalau sudah selesai mencari Kijing atau remis, saya biasanya langsung pulang untuk diolah sambil ngeliwet bersama kawan-kawan yang lain.

Bagi saya ketika itu, kegiatan main di rawa merupakan hal yang sangat mengasyikan. Ya, mengasyikan sebab beban hidup hanya perut lapar, besok Senin harus kembali sekolah, dan uang jajan yang kecil. Mau bagaimana lagi, hidup adalah tentang berproses dari satu masa ke masa yang lain. Bahkan juga dari satu dimensi ke dimensi lain. Tinggal saat ini adalah waktunya kita bersyukur atas pengalaman yang pernah dimiliki sejak kecil. Mungkin bagi anak-anak di kota sana, momen yang saya rasakan sangat sulit untuk didapat.

Berbahagialah mereka yang masa muda menyenangkan, bersyukurlah mereka yang masa tuanya tetap bisa merawat ingatan tentang masa kecil.