Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, February 21, 2019

Perubahan di Era Revolusi Industri 4.0

Melihat postingan teman, saya jadi tertarik untuk berbicara sedikit soal Revolusi Industri 4.0. Tahukah kalian apa itu?
Saya sering mengikuti seminar tentang Revolusi Industri 4.0. Secara singkat, era ini bertitik tolak dari hadirnya komputer. Jadi di era tersebut hampir semua hal sudah berbasiskan teknologi komputerisasi.

Friday, April 22, 2016

Kekerasan dalam Pacaran



Pada diskusi publik yang diselenggarakan oleh UKM Women Study Center (WSC) UIN SGD Bandung, Kamis, 21 April 2016, salah seorang pemateri Dr Neng Hannah menyampaikan materi tentang kekerasan dalam pacaran. Tema itu menjadi menarik untuk disimak, sebab selama ini kita hanya tahu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) saja, ternyata dalam lingkup pacaran pun ada.

Istilah itu memang tidak mengada-ngada, sebab berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan pada Maret 2016, menyebutkan bahwa kekerasan dalam pacaran menempati urutan kedua setelah KDRT di Bandung, yakni lebih dari 2.000 kasus (saya lupa lagi angka tepatnya). Data tersebut tentu mesti jadi perhatian bagi kita, sebab sudah bisa dikategorikan sebagai persoalan yang serius.

Neng Hannah memulai materinya dengan sebuah percakapan bersama seorang mahasiswi yang curhat kepadanya tentang pengalaman berpacaran. Perempuan itu bilang, saat ini dirinya ingin dinikahi pacarnya. Lalu Neng Hannah bertanya, mengapa Anda ingin dinikahi? Jawaban perempuan itu mengejutkan, karena pacarnya telah melecehkannya secara seksual.

Lalu keresahan mahasiswi itu mencuat karena setelah dilecehkan secara seksual, pacarnya tiba-tiba lost contact. Padahal pacar mahasiswi itu sudah berjanji akan bertanggung jawab pada semua tindakan yang telah ia lakukan. Saya hanya bisa mengelus dada mendengar yang disampaikan Neng Hannah. Mungkin sebagian di antara kita sudah tidak asing lagi mendengar cerita demikian.

Menurut Neng Hannah, pelecehan seksual bisa termasuk kepada kekerasan dalam pacaran. Sebab biasanya, kegiatan tersebut bisa hasil dari kemauan (paksaan) salah satu pasangan untuk membuktikan seberapa besar cinta yang ia miliki terhadap pasangannya. Selain itu kekerasan dalam pacaran juga terjadi dalam aspek fisik (pemukulan, digampar, dll), psikologis (berkenaan dengan tekanan kejiwaan, misalnya pasangan yang emosionalnya tinggi, keras kepala, egois tinggi, yang membuat kita membatin), dan materi (bisa ketika pasangan kita memaksa membelikan sesuatu).

Mendengar yang disampaikan Neng Hannah saya ketawa sendiri. Kenapa? Karena saya juga pernah mengalami pacaran (catat: pernah bukan sering). Bahkan sering kali, ketika pacaran, untuk pembuktian cinta saya rela hujan-hujanan, panas-panasan untuk antarjemput. Mentraktir makan, atau membelikan sesuatu. Tapi saya tak begitu mempermasalahkan, selama itu masih dalam batas wajar dan kita mampu menyanggupi. Hehe..

Lalu bagaimana solusi kongkrit dari permasalahan kekerasan dalam pacaran? Perlu kita ketahui, bahwa tidak ada regulasi yang mengatur soal kekerasan pacaran, yang ada hanya aturan untuk KDRT. Terus bagaimana? Jawabannya yakni berhentilah untuk pacaran. Mengapa demikian sebab dalam wacana Islam, tidak ada istilah pacaran.

Lalu bagaimana dengan Taaruf? Menurut Neng Hannah, Taaruf memang ada dalam Islam, bertujuan kepada kita untuk saling mengenal satu sama lain. Namun tidak ada fiqih yang menjelaskan secara lebih lanjut bagaimana itu Taaruf dalam konteks berhubungan antara lawan jenis. Sehingga Taaruf sering kali jadi casing berbeda, namun isinya tetap sama dengan pacaran. Artinya hanya beda nama. “Kalau mau menjalin hubungan, lebih baik khitbah,” kata Neng Hannah.

Secara prinsip, saya sepakat dengan yang disampaikan Neng Hannah. Namun ya tetap, dalam konteks sosiologis pacaran sudah menjadi hal yang lumrah, sulit untuk menghindari keberadaannya. Budaya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Lagi-lagi ini kembali kepada diri kita masing-masing bagaimana menyikapi pacaran.

Jika dihadapkan pada persoalan ini, kita memang mesti arif dalam menyikapinya. Menurut saya, pacaran memang kurang baik. Walaupun ada sisi positifnya, tetapi sisi negatifnya lebih banyak. Akan tetapi, karena sudah menjadi hal lumrah, yang sulit untuk dihindarkan di masyarakat, kita perlu membatasi diri pada hal-hal yang positifnya saja. Apa saja itu? Entahlah saya sendiri juga bingung apa hal positif yang dihasilkan dari pacaran. Ketika pacaran sudah merangsek pada hal kurang baik (misalnya kekerasan dalam pacaran) lebih baik kita tanggalkan status pacaran.

Ada yang salah memang dari masyarakat kita, yakni sering kali mengolok-ngolok setiap orang yang tidak pacaran (Baca: jomblo atau single). Padahal stereotype itu tidaklah benar. Menurut saya jomblo atau single pada masa remaja (puber), itu jauh lebih baik daripada kita berpacaran tapi malah terjebak pada hal-hal yang negatif. Bagi saya, yang menjadi persoalan di sini hanya status sosial. Lalu apakah karena kita jomblo/single, tidak bisa mendapat beasiswa, IPK jadi di bawah rata-rata, sulit melamar pekerjaan, tidak punya penghasilan, dll. Kan tidak demikian. Justru yang ada adalah motivasi diri kita makin tinggi, sebagai upaya untuk memantaskan diri meminang lawan jenis.

Teman saya punya konsep berhubungan begini, jika memang di antara kita ada yang suka pada lawan jenis, alangkah lebih baik jika itu diungkapkan. Tapi jangan sampai berujung pada pacaran, karena nantinya setelah pacaran akan ada banyak syarat dan ketentuan yang berlaku. Ketika sudah mengungkapkan perasaan dan respon yang sama suka dari lawan jenis, syukur-syukur langsung mengkhitbah. Tapi kalau belum siap, maka cobalah untuk membuat kesepakatan saling percaya sampai khitbah. Maksudnya adalah dalam proses menuju khitbah itulah masing-masing dari kita berusaha memantaskan diri. Proses taaruf dalam konteks yang benar pun terjadi di sana. Kalau saya menafsirkannya dalam bahasa beken sebagai hubungan tanpa status. Tapi bukan PHP, karena masing-masing sudah memberi kepastian: berkhitbah.

Cara ini memang agak aneh, tapi boleh dijadikan referensi dalam berhubungan. Entahlah saya juga bingung, soal begini saya bukan pakarnya. Tapi yang jelas, perlu saya ulangi dalam wacana Islam, tidak ada yang namanya pacaran. Dan pacaran, karena kehadirannya sudah menjadi hal yang sulit dihindari, kita mesti arif menyikapinya. Jangan sampai kita terjebak pada pacaran yang menimbulkan ekses negatif.

Wallahualam. Terima kasih, semoga menginspirasi.

Tuesday, March 10, 2015

Calon Jurnalis Wajib Punya Blog


Ketika kita membaca judul tulisan ini, tentu kita mempunyai pertanyaan, mengapa seorang jurnalis harus punya blog? Lantas apa hubungannya blog dengan kegiatan jurnalistik? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, dalam tulisan sederhana ini akan dibahas semua pertanyaan itu.

Ketika mendengar istilah blog, di antara kita tentu ada yang menganggapnya sebagai wadah untuk curhat-curhat semata. Ya, itu memang salah satu fungsi dari blog (berisi catatan pribadi). Namun pernahkah kita, para calon jurnalis—atau mahasiswa jurnalistik—punya persepsi lebih soal kehadiran blog?

Selain untuk media curhat pribadi, kita selaku calon-calon jurnalis tentu perlu mengasah kemampuan menulis untuk menunjang kegiatan kita di bidang jurnalistik. Nah, blog adalah salah satunya. Di bog kita juga bisa mempraktikan berbagai teori tentang menulis berita (straight news, depth news, investigative news, feature dll). Hal-hal tersebut tentu akan sangat menunjang terhadap kemampuan kita di bidang jurnalistik.

Selain itu, kita juga bisa berinteraksi dengan sesama pengguna blog (bogger) lain, untuk saling share tulisan-tulisan, dan saling bertukar pikiran. Untuk membuat blog pun kini sudah sangat mudah dan gratis. Kita bisa membuatnya di blogspot atau wordpress.

Bahkan, untuk tugas-tugas kuliah pun, jangan hanya berujung di meja dosen saja. Tapi ketika kita mempunyai blog, kita bisa membagikan tulisan itu ke teman-teman kita, di-share di media sosial. Tentu saat akan di-posting di blog, kita juga akan berpikir, kira-kira tulisan kita sudah enak dibaca atau belum. Sudah tepat atau tidal. Makanya, dengan alasan itu pula, kita mengerjakan tugas tidak hanya untuk pemenuhan tugas semata, dan cenderung asal-asalan. Tetapi lebih dari itu, kita bisa bersungguh-sungguh mengerjakan tugas karena akan di-share dengan teman-teman yang lain.

Menjamurnya Media Online

Alasan lain mengapa calon wartawan wajib punya web, karena dewasa ini perkembangan jurnalisme sudah masuk dunia online (cyber). Hampir semua media massa, baik itu cetak maupun elektronik, kini mempunyai portal berita online.

Blog, bisa disebut juga sebagai miniatur dari media online yang saat ini makin menjamur. Hal-hal, atau prinsip-prinsip dasar di media online, semuanya ada di blog. Misalnya soal rubrikasi, konten, disain web dll ada di blog. Ketika kita mempunyai blog, ini merupakan langkah awal yang bagus untuk memulai karir kita di bidang jurnalistik online.

Bukan tidak mungkin, suatu saat ada seorang pemodal yang memberikan job untuk membuat portal berita online kepada kita. Tentu saat kita paham tentang bagaimana prinsip media online karena kita punya blog, kita tidak akan kikuk, dan berkata tidak sanggup ketika ditawarkan akan hal itu.

Kita juga bisa meng-upload beberapa berita  yang telah kita buat di blog. Bahkan saat ini, banyak template-template gartis yang disainnya sudah selayaknya media online.

Jadi tunggu apalagi, segeralah buat blog mu!   

Thursday, March 13, 2014

Langkah Cermat saat Bencana Datang

invonesia.com
Ilustrasi/invonesia.com
Oleh Adi Permana

Akhir-akhir ini, di Indonesia sering terjadi bencana alam. Seperti meletusnya Gunung Kelud, banjir di Subang dan yang lainnya. Hal tersebut tentunya membuat kita harus waspada dan sigap di kala bencana alam datang. Banyak yang menjadi korban jiwa di saat bencana datang karena kurangnya pengetahuan dan persiapan tentang bagaimana yang harus dilakukan saat bencana datang. Berikut adalah langkah cermat di kala bencana datang.

 Pertama, selalu persiapkan kotak Perawatan Pertama Pertolongan Korban (P3K). Banyak orang yang seolah menghiraukan keberadaan kotak P3K di dalam rumah. Padahal, keberadaan kotak tersebut adalah langkah awal penanggulangan medis bila terjadi hal yang tak diinginkan. Apalagi saat bencana datang, orang-orang termasuk dokter sekalipun pasti akan sibuk untuk menyelamatkan diri sendiri sebelum menyelamakan orang lain.

Kedua, perbanyak pengetahuan tentang cara bagaimana menghadapi bencana alam. Misalnya saat terjadi gempa bumi mendadak. Bila tak sempat untuk keluar dari bangunan beratap, sebaiknya kita bersembunyi di balik meja-meja yang tebal. Atau ketika banjir datang, biasanya anak-anak malah asik untuk bermain air. Mereka tidak sadar kalau itu bisa membahayakan mereka, orangtua harus sigap untuk memperingatkan dan menjaga buah hatinya.

Sunday, March 9, 2014

Tips Mudah Berbelanja di Pasar Cimol

sumber: bisnis-jabar.com
Berbelanja di pasar Cimol atau pasar barang bekas bukan hal yang mudah. Sebab kita harus cermat memilih barang yang kualitasnya masih bagus. Kita juga harus pandai-pandai menawar barang. Selain itu, berbelanja di pasar Cimol juga ada poin plusnya, yaitu bisa menghemat isi dompet. Lumayan kan untuk memenuhi kebutuhan yang lainnya.

Nah, bila Anda kebingungan bagaimana cara berbelanja di pasar Cimol, berikut adalah enam tips mudah berbelanja di pasar Cimol. Pertama siapkan uang tunai. Karena di pasar Cimol biasanya susah untuk mencari ATM. Kedua,   teliti barang yang akan dibeli. Periksalah dari segi jahitannya dan carilah pakaian yang tidak kotor, karena kalau pakaian yang kotor biasanya kualitasnya buruk dan dapat mengganggu pada kulit Anda bila nanti dipakai.

Hati-hati Jangan Sering Begadang!

Ilustrasi/liniberita.com
Jika Anda masih suka begadang atau sering tidur larut malam, mulai saat ini cobalah untuk berhenti. Sebab banyak kerugian yang ditimbulkan dari seringnya kita begadang. Terutama kerugian pada kesehatan tubuh Anda. Dampak yang sangat dirasakan bagi sering yang begadang yakni kulit yang kering, kelopak mata yang tampak hitam, mata merah dan selalu lesu. Tidur yang ideal bagi seseorang adalah 7-8 jam perhari.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr Shives dari Universitas of Surrey di Inggris, seperti yang dijelaskan di situs Wolipop.com, menjelaskan dampak buruk terhadap orang yang suka begadang. Pertama akibat begadang adalah tingkat Depresi yang tinggi. Biasanya orang sering begadang kondisi kejiwaanya tidak stabil. Oleh karenya ia sangat mudah terkena Stress bahkan depresi bila dihadapkan pada suatu permasalah berat.

Wednesday, November 27, 2013

Analisis Teori Agenda Setting terhadap Pemberitaan di Media Massa


*Oleh Adi Permana
 
Sumber : anjari.blogdetik.com
Belum lama ini kita disibukan dan dibuat resah oleh pemberitaan di media massa. Terutama pemberitaan mengenai kasus korupsi. Isu-isu dan kasus yang berkembang seolah terdapat setting dari media massa. Pengalihan isi pemberitaan menjadi hal yang perlu dikaji dan dianalisi secara cermat. Alih-alih  rating menjadi alasan yang kuat dalam isi pemberitaan.

Salah satu kasus yang pernah terjadi yakni kasus Bank Century. Setelah sekian lama tak terdengar kabar, akhirnya baru-baru ini menguap kembali ke permukaan. Beberapa elite politik ternyata ikut masuk dalam daftar hitam. Pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun berlanjut. Seolah menemui titik cerah, optimisme terhadap penyelesaian kasus ini pun kian terbuka. Media massa begitu antusias memberitakan perkembangan kasus ini. Di media cetak apalagi, kasus ini sempat beberapa kali menjadi headline.

Sunday, June 2, 2013

Dinamika Pers Mahasiswa

Dok.Istimewa


*Oleh Adi Permana

Sudah tidak diragukan lagi untuk mengakui bahwa mahasiswalah yang begitu dominan peranannya terhadap dinamika kehidupan bangsa Indonesia. Mahasiswalah yang menjadi lokomotif perubahan bangsa, dari era prakemerdekaan sampai masa reformasi bergulir. 

Sejarah telah mencatat ketika tumbangnya rezim orde baru yang dipegang oleh Presiden Soeharto dilatarbelakangi oleh pergerakan mahasiswa yang menginginkan akan adanya perubahan. Semua lapisan mahasiswa berbondong-bondong menduduki gedung MPR-RI untuk menginginkan adanya reformasi.