Monday, October 10, 2016

Sukabumi, dan Cerita Bersama Wartawan Media Lokal


Kita barangkali sering mendengar istilah ini, “Belajar bisa didapat dari siapa saja, dan dari hal yang sederhana.” Jika ditelaah lebih mendalam, ungkapan itu sebetulnya mengandung nilai filosofis yang dalam, bahwa kita sebagai manusia harus terus belajar, walau dalam kondisi apapun, di mana pun, dan dengan siapa pun. Tentu belajar tentang kebermanfaatan atau hal baik.

Nah, ini adalah tulisan saya tentang sebuah pengalaman sederhana menjadi jurnalis di media lokal Sukabumi.

Saya tergolong masih “ingusan” untuk persoalan terjun ke lapangan sebagai jurnalis di media mainstream. Di kampus, saya memang cukup aktif sebagai salah satu pengurus sebuah lembaga pers mahasiswa. Namun hal itu jelas berbeda dengan suasana lapangan sebenarnya dunia wartawan.

Baru-baru ini, saya diberi kesempatan untuk menitih karir sebagai reporter di portal berita sukabumiupdate.com. Saya sebetulnya setengah hati untuk hijrah dari Bandung ke Sukabumi. Mengingat di sana tidak ada relasi wartawan satu pun, dan juga tak terlalu hapal medan liputan. Atau istilah beken di kalangan wartawan, tak kenal pemetaan wilayah.

Saya coba memberanikan diri. Ikhtiar tetap harus dilakukan daripada tidak ada kegiatan setelah lulus kuliah. Daripada nunggu yang tak pasti (panggilan kerja), mending ambil saja kesempatan yang ada. Toh yang namanya hidup harus berproses, mesti dimulai dari nol. Begitupun karir menjadi wartawan. Sangat jarang bagi seorang fresh graduate macam saya, “ujug-ujug” nangkring di media masa nasioanl seperti Kompas, Tempo, Bisnis Indonesia, dan lainnya.

Redaktur saya kang Fitriansyah atau dikenal sebutan “Fit” menempatkan saya di desk Kota Sukabumi. Waktu itu, pihak media menyambut hangat kehadiran saya di sana. Sekedar informasi, sukabumiupdate.com merupakan media start up yang terbilang keren. Baru kira-kira dua bulan berdiri, ratting alexa.com sudah tembus 2.000 (Indonesia). Rata-rata pembacanya, kata kang Fit sehari bisa sampai 25.000 pembaca. Waw, kata saya, ini media meskipun baru lahir cukup potensial dan kuat bersejajar dengan media-media online lain setempat.

Hari pertama bergabung di media itu cukup berkesan. Saya langsung diajak ikut aksi solidaritas bersama para wartawan kontributor di Sukabumi. Kenapa demikian, sebab saat itu sedang booming isu pemukulan oknum TNI kepada kontributor NET TV di Madiun. Seorang jurnalis kontributor NET TV Sukabumi, Panji ikut membantu secara moril dengan mengadakan aksi solidaritas di Sukabumi.

Saat itulah momen yang pas bagi saya untuk berkenalan dengan jurnalis-jurnalis di Sukabumi. Ternyata daerah Sukabumi punya sisi jual berita yang bagus juga, wartawan di sini cukup banyak juga. Hampir sebagaian media nasioanl punya kontributor Sukabumi seperti Kompas TV, Kompas.com, Republika, Tempo, Net TV, RTV, RCTI (MNC) dan lainnya. Sama kang Fit saya pun disuruh langsung menulis aksi itu dan dimuat sebagai berita pertama saya di sukabumiupdate.com hehe. Lumayan.

Hari-hari berikutnya, saya jalani dengan lancer beberapa liputan. Tentunya, namanya wartawan di daerah isu-isu bagus amat jarang. Paling yang paling bagus rattingnya adalah berita tentang bencana, dan kriminal. Sisanya kita mesit pandai-pandai mencari isu yang bagus. Tapi beruntung bagi saya waktu itu, tiap hari selalu ada berkah dari setiap musibah. Istilanya, mencari berkah dari musibah.

Belajar dari Pak Budiyanto
Perkenalkan, jurnalis yang satu ini bernama Budiyanto. Saya biasa sebut beliau Pak Budi karena sudah senior (usia), dan pengalamannya sudah banyak. Perkenalan pertama saya sama beliau adalah ketika sedang meliput bersama kasus vaksinasi. Soal kasusnya, baca saja di sukabumiupdate yah hehe. Beliau ini tampilan nyentrik, tak seperti wartawan kebanyakan. Tubuhnya tambun, berkumis, berjanggot, rambut gondorng, berkacama, dan selalu berpakaian kummel. Mungkin kalau Anda kenal sepintas, mungkin kalian akan mengira beliau wartawan media Tempo (Tempo nulis- tempo tidak).

Tapi justru sebaliknya, dia seperti bergelar “kasepuhan” di kalangan jurnalis di Sukabumi. Pak Budi saya pikir orangnya cukup kritis, komunikasinya bagus, dan punya relasi yang banyak. Beberapa kali liputan ke tempat baru, selalu saja ada satu-dua orang dia kenal. Lalu ngobrol panjang soal a, b, c , d bla bla. Aduh tapi saya lupa ngobrol lebih dalam umurnya berapa, dan punya anak berapa. Penting gak sih, enggak terlalu ya. Yang penting soal Pak Budi ya pada cerita berikut ini.

Oke. Pak Budi adalah kontributor Kompas.com. Kalau tidak salah, untuk kontributor Kompas.com dibayarnya per berita yakni Rp 30.000. Perlu kalian ketahui, HU Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV itu berbeda manajemen. Jadi gaji mereka pastilah berbeda-berbeda.

Saya sebenarnya baru tiga kali liputan bareng beliau. Tapi banyak ilmu yang sudah bisa diserap. Terutama tentang melobi, ngobrol atau komunikasi. Wartawan itu ternyata modal utama yang harus dimiliki selain bisa menulis berita adalah melobi. Karena dari situlah data untuk bahan tulisan (untuk wartawan tulis) didapat. Beberapa kali liputan, beliah lah yang selalu menjadi orang pertama yang membuka pembicaraan dengan narasumber. Saya jujur tidak terlalu berani, sebab kata Pa Budi, untuk urusan konfirmasi isu-isu sensitive hendaknya diawali oleh media yang punya pengaruh. Selain pak Budi kadang sama Kang Panji Net TV, dan Abang dari Kompas TV.

Enaknya jika liputan bareng wartawan media nasional, adalah penerimaan yang baik dari narasumber, dan akses yang gampang.  Masih soal liputan kasus vaksinasi, saya bersama rekan-rekan wartawan lain mencoba konfirmasi ke daerah yang lumayan jauh dari Kota Sukabumi. Bahkan sampai saya harus lintas desk ke Kabupaten Sukabumi untuk bertemu Kepada Dinkes di sana.

Saat perburuan narasumber itulah, saya mendapat sebuah trik ala Pak Budi untuk tembus ke ruangan narasumber. Jadi ceritanya, ketika itu, kami kesulitan untuk menghubungi kepada Dinkes Kab Sukabumi, Nomor teleponnya tiba-tiba mendadak tidak aktif. Akhirnya, pak Budi mengeluarkan triknya, yakni datang langsung ke kantor Dinkes. Tiba di kantor, kita ngobrol soal rencana liputan ke satpam. Namun satpam itu berdalih, tidak melihat keberadaan narasumber yang sedang dicari. Pak Budi kemudian menelpon, dan ternyata tersambung. Kata Pa Budi, kepada Satpam kita disuruh nunggu di ruangannya.

Bersama rekan wartawan lainnya, kita merasa heran. Kenapa sama Pak Budi nomornya aktif, sementara tadi di telpon tidak aktif. Pak Budi senyum-senyum kecil mencurigakan. Haha ternyata yang dia lakukan itu trik untuk mengelabui petugas satpam. Dengan begitu, kendati narasumber susah membuat jadwal, kita sudah menunggu di ruangannya. Lumayan cerdas, sampai-sampai kami pun yang jadi wartawannya juga ikut tertipu. Akhirnya tak lama berselang, narasumber sudah datang, dan sedikit merasa kaget atas kedatangan kami. Mau tidak mau, dia tak bisa nolak, dan langsung menerima kedatangan kami untuk dimintai konfirmasi.

Membangun Jaringan Lewat Nongkrong
Bagi seorang wartawan baru, relasi dengan wartawan lain pasti masih sedikit. Makanya kita mesti pandai-pandai memperoleh relasi itu. Salah satu caranya yakni dengan kita SKSD (Sok Kenal Sok Deket). Tapi saya tergolong orang yang kurang bisa begitu. Trik saya adalah dengan nongkrong bareng, dan traktir ngopi. Memang perlu sedikit modal, tapi kalau tidak begitu, arus informasi liputan bisa susah. Intinya harus sering ngumpul bareng dengan wartawan lain.

Kebetulan, di Kota Sukabumi ada salah satu tempat nongkrong para wartawan namanya Bude. Pertama kali ke tempat itu, saya pikir wartawan di Sukabumi cukup hedon. Karena tempat itu tidak lain sebuah kafe. Tapi ternyata bukan di kafe-nya melainkan di samping kafe ada sebuah warung kopi kecil, dan sebuah gerobak gorengan. Biasanya wartawan sering melepas lelah di sana. Ngopi bareng sambil ngobrol ngaler ngidul.

Kata Pa Budi, tempat itu dulunya warung nasi. Nama pemiliknya biasa dipanggil Bude. Di sana juga ada warnet. Letaknya lumayan strategis tepat di tengah-tengah kota. Cukup representatif untuk wartawan tulis dan tv mengolah bahan setelah beres liputan. Tapi sayang, kini tempat itu dibeli oleh orang Jakarta untuk dibikin kafe. Karena barangkali sudah punya nama, dan tidak ada tempat lain, sampai sekarang tempat itu masih tetap dijadikan lokasi ngumpul para wartawan.

Saya juga walaupun masih baru, selalu nongkrong di sana setelah beres liputan. Enak tidak enak, suka tidak suka, dengan begitu saya bisa lebih dekat dengan wartawan lain.

Selain nongkrong, salah satu cara agar bisa dekat dengan wartawan lain adalah men-cc berita hasil liputan ke wartawan lain. Misalnya, saya punya rekaman narasumber, nah kalau ada wartawan lain telat kita tawarkan rekaman saya. Atau kalau ada yang minta bahan, jangan pelit untuk ngasih. Sebab nanti suatu saat, kita pun bisa telat datang dan tak punya bahan. Intinya saling membantu satu sama lain. Karena kita juga tahu susah senangnya jadi wartawan seperti apa.

Tapi memang, prinsip ketergantungan pada wartawan lain buat minta bahan jangan terlalu sering dilakukan. Sebab bisa membuat kita tak produktif liputan, dan jadi pemalas. Fenomena seperti ini memang sudah tak aneh lagi. Bahkan tidak hanya bahan tulis, ternyata sistem minta bahan video untuk TV juga ada.

Selain itu, sebetulnya ada banyak pengalaman lain saat menjadi jurnalis media lokal selama satu minggu ini. Saya pun minta maaf kepada Kang Fit karena baru seminggu liputan sudah ijin ke Bandung lagi karena ada yang harus diurus, dan kebetulan sedang ada panggilan kerja media di Bandung. Oke Sukabumi, ini bukan perpisahan, sampai ketemu lagi, terima kasih atas pengalamannya.

Akirnya saya ingin mengatakan, proses belajar yang efektif itu tidak hanya melulu di kelas. Tapi harus ditopang juga dengan pengalaman di luar kelas. Selamat mencoba jadi wartawan, mari kita liputan lagi. Belajarlah terus sampai mati!

Thursday, July 14, 2016

Pasar Tanggeung, Relokasi, dan Suara Hati Pedagang

Akhir-akhir ini, wacana relokasi pasar dan penggusuran sering menghiasi pemberitaan media massa. Terutama terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Alasannya tidak lain karena demi keindahan (red: kebersihan) dan menghapus kemacetan.

Seolah tidak mau kalah, di sebuah kampung yang jauh dari perkotaan, relokasi juga terjadi. Tepatnya terjadi di Desa Tanggeung, Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur. Semula, kawasan terminal Tanggeung dan sebagian daerah Desa Kertajaya setiap Senin dan Kamis selalu terdapat pasar tumpah. Kegiatan tersebut sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun silam.

Semenjak ibu saya lahir, dan sekarang berusia 50 tahun, pasar tumpah di Tanggeung sudah ada. Namun sekarang, kehadiran pasar tumpah di Tanggeung harus rela direlokasi. Kehadiran pasar sebetulnya sudah melekat dalam keseharian masyarakat di sini. Biasanya banyak orang memanfaatkan kehadiran pasar tersebut sebagai sumber mencari rezeki. Perputaran uang dengan sekala besar terjadi di pasar ini. Mulai dari tukang ojeg, pedagang asin, sayur, buah-buahan, pakaian, toko, sembako, kuli panggul, tukang parkir, warung nasi, dan pemerintah itu sendiri. Bayangkan, banyak orang tentunya menggantungkan hidupnya di pasar tumpah Tanggeung.

Kini para pedagang yang biasa memasarkan dagangannya di pinggir jalan, harus rela pindah lapak. Pemerintah setempat sudah membuat area khusus bagi para pedagang untuk berdagang. Namun beberepa kali direlokasi, masih saja ada sejumlah pedagang yang “ngeyel” berjualan di area terlarang, yaitu di bahu jalan di perbatasan antara Desa Tanggeung dan Desa Kertajaya.

Banyak pedagang berasalasan, tempat yang sempit, dan kurangnya pemasukan, membuat mereka ogah untuk pindah. Termasuk yang dialami ibu saya. Biasanya ia sering memanfaatkan pasar tumpah Senin dan Kamis untuk berjualan makanan. Pendapatannya ya, lumayan bisa menghidupi tiga orang anak.

Kebijakan pemindahan area lokasi pasar Tanggeung berdasarkan yang saya amati, mengacu pada Perundangan-undangan tentang Ketertiban dan Kemanan Berlalulintas. Polisi adalah pihak yang paling semangat untuk merelokasi para pedagang. Berkali-kali mereka mengajak para pedagang untuk pindah. Tapi saya tidak mau suudzon dari relokasi, apakah aparat keamanan mendapat jatah atau tidak. Saya acungi jempol, sebab kali ini relokasi berlangsung tanpa kekerasan. Walaupun banyak selentingan, pihak terkait bisa itu Polisi atau Satpol PP atau yang lainnya, sudah “pasang kuda-kuda” akan melakukan tindakan represif, kalau ada pedangang yang keukeuh tak mau relokasi. Yah, wong cilik macam kami, takutlah diburak-barik petugas.

Menurut informasi yang saya dapat, kehadiran pasar tumpah di Tanggeung menimbulkan kemacetan karena terganggunya lalu lintas kendaraan dari arah Kertajaya ke Desa Tanggeung.

Ya itu memang benar. Akan tetapi sebetulnya ada alternatif jalan melalui Pengkolan Beureum ke Pasko. Cuman, salah pemerintah sendiri ogah memperbaiki jalan tersebut sehingga rusak dan susah dilalui kendaraan. Baiklah, mari kita sejenak tinjau keberadaan pasar tumpah di kota-kota besar. Setahu saya, pasar tumpah yang tidak setiap hari terjadi itu, juga marak di Bandung. Misalnya, di Soreang, setiap hari Minggu ada pasar tumpah, di Cibiru juga ada pasar tumpah di daerah dekat Manglayang, Dago, beberapa daerah di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, dan daerah lainnya.

Nyatanya, di kota-kota besar, keberadaan pasar tumpah juga ada. Bahkan menghiasi jalan-jalan protokol. Lantas mengapa di Tanggeung, keberadaan pasar tumpah begitu dikecam sampai-sampai harus direlokasi? Kira-kira itulah pertanyaan saya selama ini dan sejumlah pedagang lainnya.

Jika saya lihat dari sudut pandang subjektif, jelas relokasi pasar Tanggeung menimbulkan kurangnya pendapatan dari para pedagang termasuk yang dirasakan ibu saya belakang ini. Namun secara objektif, saya harus mengatakan bahwa langkah pemerintah setempat sudah benar. Akan tetapi kurang tepat.

Alasannya yang pertama, pemerintah melupakan situasi dan kondisi tempat di mana relokasi pasar itu terjadi. Misalnya seperti rekayasa lalu lintas. Bagi saya asumsi bahwa dengan merelokasi pasar menimbulkan ketertiban lalu lintas tidak begitu kuat, sebab tetap selama pasar ada, aktivitas kendaraan akan terpusat di pasar, dengan begitu, jumlah kendaraan akan memadat dan menimbulkan kemacetan. Belum lagi yang parkir liar. Mau tidak mau, ya tetap kendaraan terparkir di bahu jalan, sebab tidak ada lagi tempat untuk parkir kendaraan.

Kedua, banyak pedagang dan pembeli yang mengeluhkan tempat relokasi pasar kurang strategis dan tempatnya terlalu kecil untuk menampung puluhan pedagang. Belum lagi, ekses dari itu yakni pemasukan yang menjadi sedikit. Beda halnya ketika pasar tumpah di bahu jalan, kadang ada yang sampai habis dagangannya dengan omzet puluhan juta. Mungkin ini baru ujicoba sih, lama-lama pedagang dan pembeli akan terbiasa dengan kondisi itu. Tapi mungkin ya.

Ketiga, menurut saya relokasi pasar Tanggeung telah memonopoli pendapatan dari dua desa yang biasanya menjadi langganan pasar tumpah di Tanggeung. Tentu saja, dengan relokasi ke wilayah Desa Tanggeung, membuat pemasuka terhadap Desa Kertajaya tidak ada. Padahal Desa Kertajaya sudah langganan tempat para pedagang berjualan bertahun-tahun. Harusnya menurut saya, ada pembagian tempat antara dua desa tersebut. Sehingga pemasukan terhadap kas desa tetap ada. Bukan malah, Desa Kertajaya hanya mendapat “ampas” karena pedagang dan pembeli kerap kali parkir di wilayah Kertajaya.

Entahlah, dalam sebuah sistem dan kebijakan, memang tidak ada yang sempurna. Pro dan kontra kerap kali terjadi. Tugas yang harus dilakukan selaku pengelola pasar sekarang adalah mengevaluasi apa yang sudah terjadi. Bukan semata “namprak” memunguat biaya sewa tempat. Ya, pada akhirnya, tulisan ini hanya sekadar memuat opini yang berserakan dari para pelaku usaha seperti tukang ojeg, pedagang, pembeliyang sering memanfaatkan kehadiran pasar. Termasuk dari ibu saya sendiri, dan pak Lurah. Tidak ada sekecil pun rasa tendensius pada pihak manapun. Seperti kata Pram, kita mesti adil sejak dalam pikiran.

Terima kasih…

Wednesday, July 13, 2016

Merawat Ingatan di Rawa Sukamanah



Mandi di sungai, dan di rawa. Main layangan di terik matahari, sepedahan sampai kaki pada lecet. Sebagian ingatan di kala kecil itu paling membekas dalam ingatan saya. Namun dari sekian banyak kenangan di waktu bocah itu, saya kerucutkan pada kenangan bermain di rawa.

Ya, di Tanggeung, tempat tinggal saya punya sebuah rawa, dengan nama Rawa Sukamanah. Warna airnya biru kehijau-hijauan. Di sebelah utaranya di kelilingi pegunungan dan pesawahan. Di sisi selatan adalah rumah warga.

Biasanya mayoritas aktivitas masyarakat di sekitar rawa adalah memancing. Tradisi dibalut hobi ini terus turun temurun sampai sekarang. Anehnya, bukan hasil yang diincar tapi proses mendapatkan hasil berupa ikan itu sendiri. Padahal ikan hasil tangkapan para pemancing tak besar-besar amat, pun ikannya pada kecil. Tapi mereka selalu bilang “da ieumah karesep”.

Filosofi para pemancing terkadang di luar nalar. Mereka rela dari pagi sampai ketemu pagi hanya nongkrong di pinggir rawa. Memelototi “umbul-umbul” mereka apakah ada ikan yang makan ikan atau tidak.

Tapi saya tidak melakukan hal itu. Jujur saja mancing bukanlah hobi saya, karena sejak dulu saya tidak bisa memancing. Yang sering saya lakukan di Rawa Sukamanah ialah renang dan mencari Kijing atau Remis.

Kalian tentu tahu kan apa itu Kijing dan Remis. Itu adalah hewan sekeluarga dengan kerang, namun hidupnya biasanya di rawa-rawa. Renang di rawa adalah hal yang mengasyikan. Beda dengan di sungai, resiko tenggelam di rawa lebih kecil. Melalui kegiatan yang biasanya dilakukan  saat libur sekolah inilah membuat saya merindukan masa-masa kecil dulu.

Seorang pemancing sedang melakukan aktivias memancing di Rawa Sukamanah. Tempat ini memang seringkali dijadikan objek memancing bagi warga sekitar.

Merawat Ingatan

Libur hari raya Idhul Fitri, biasanya dijadikan momen untuk berlibur. Sebagai lagi, memilih untuk kumpul barang bersama teman lama di kampong. Termasuk yang dilakukan oleh saya bersama teman-teman SD dulu. Momen lebaran, biasanya mereka selalu mudik, dan di saat itulah biasanya kita sering berkumpul untuk sekedar “ngaliwet” atau kongkow.

Kali ini, kami berinisiatif untuk mencari tempat kumpul di sekitaran Tanggeung. Tempat itu jatuh pada Rawa Sukamanah. Lokasinya tidak jauh dari terminal Tanggeung, hanya saja jalannya yang kurang mulus membuat perjalanan jadi lama. Di Rawa Sukamanah merupakan tempat yang asyik untuk menyendiri. Suasananya sepi, jauh dari hingar bingar. Cocoklah buat muda-mudi yang sedang menjalin asmara. Eits hati-hati, jangan kebablasan, ingat syariat Islam!

Waktu kecil saya biasanya ke sini bersama rombongan anak-anak yang lain menggunakan motor. Atau biasanya sambil lari pagi di hari Minggu. Tempat favorit di Rawa Sukamanah ialah jembatan dari pipa besi. BIasanya saya sering mandi dan mencari Kijing di sini. Dulu sih Kijing masih banyak di jumpai, cara ngambilnya gampang-gampang susah. Kita hanya perlu meraba dengan kaki mencari Kijing, kalau sudah terasa, baru diambil oleh tangan. Kadang hasilnya bisa dapat sekarung, atau sekeresek saja. Tergantung dari seberapa kuat kita lama berendam di dalam air.

Di Rawa Sukamanah, kita juga bisa bermain rakit-rakitan ke tengah rawa. Asik bukan!

Konon, ada yang pernah dapat Kijing sebesar piring. Tapi ya, itu memang harus dilakukan agak ke tengah rawa. Resikonya adalah tenggelam karena makin ke tengah, main dalam. Kalau sudah selesai mencari Kijing atau remis, saya biasanya langsung pulang untuk diolah sambil ngeliwet bersama kawan-kawan yang lain.

Bagi saya ketika itu, kegiatan main di rawa merupakan hal yang sangat mengasyikan. Ya, mengasyikan sebab beban hidup hanya perut lapar, besok Senin harus kembali sekolah, dan uang jajan yang kecil. Mau bagaimana lagi, hidup adalah tentang berproses dari satu masa ke masa yang lain. Bahkan juga dari satu dimensi ke dimensi lain. Tinggal saat ini adalah waktunya kita bersyukur atas pengalaman yang pernah dimiliki sejak kecil. Mungkin bagi anak-anak di kota sana, momen yang saya rasakan sangat sulit untuk didapat.

Berbahagialah mereka yang masa muda menyenangkan, bersyukurlah mereka yang masa tuanya tetap bisa merawat ingatan tentang masa kecil.

Tuesday, April 26, 2016

Disiplin Waktu



“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal soleh, dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”
(Q.S Al-’asr)


Setiap orang memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam. Tapi tidak setiap orang pandai memanfaatkan waktu yang sama itu. Artinya, ada orang yang bisa menggunaan waktu yang singkat itu untuk kegiatan bermanfaat, ada pula yang sebaliknya. Seperti kutipan ayat di atas, kita (manusia) benar-benar dalam kerugian jika tak pandai menggunakan waktu untuk hal-hal positif (kebaikan).

Apakah kalian sering bertanya pada diri sendiri atau kagum pada orang-orang yang sukses? Jangan jauh-jauh, kita ambil contoh orang-orang di sekeliling kita. Misalnya ada yang sejak muda sukses berkarier, mendapat beasiswa pendidikan, jadi interpreuneur muda, berprestasi dan banyak lagi. Mengapa mereka bisa seperti itu tetapi kita belum? Pertanyaan itu juga berlaku untuk saya sebenarnya, dan memang harus sering dimunculkan, bisa ditulis di dinding kamar? Di gadget, atau tempat lain. Tujuannya untuk memotivasi diri sendiri.

Seperti halnya tulisan ini. Saya sebenarnya sengaja menulis tulisan dengan tema memanfaatkan waktu bukan untuk sosoan menceramahi, karena jujur saya juga termasuk orang yang tak pandai memanfaatkan waktu. Intinya adalah untuk berbagi, seperti pepatah seorang ulama Islam, bahwa manusia memang harus selalu diberi nasehat, karena manusia seringkali lupa.

Tulisan ini juga sebenarnya terinspirasi dari materi khutbah yang disampaikan oleh khotib pada salat Jumat (22/4) lalu. Saya yang biasanya, eh kadang-kadang maksudnya, tidur saat cermah khotib, kala itu begitu antusias dengan materi yang disampaikannya. Inilah mungkin yang dinamakan mendapat hidayah. Alhamdulilah…

Jadi pada Jumat itu, khotib menyampaikan materi tentang memperbaiki salat. Salah satu poinnya yaitu memperbaiki waktu pelaksanaan salat. Banyak di antara kita sering kali salat tidak di awal waktu, berleha-leha pada salat. “Fawailul lismusollin, alladziina hum ansolaatihim saahuun,” ucap sang khotib menyampaikan Surat Al-Ma’un :5-6. Ayat tersebut memiliki arti, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.”
Lalai di sana maksudnya adalah salat yang sering dinanti-nanti, hingga akhirnya salah di akhir waktu. 

Maka, kata khotib, setiap kali kita lalai dalam salat akan ada konsekuensi (sanksi) yang bakal dihadapi. Khotib mengibaratkan seperti ini, ada seorang guru mengatakan kepada murid kelasnya bahwa besok harus datang ke sekolah pukul 07.00 pagi, dan mengikuti kegiatan belajar sampai pukul 13.00. Berarti waktu sekolah adalah dari pukul 07.00-13.00. Lalu ada seorang murid yang datang pukul 09.00. Lantas murid itu pun tentu ditegur oleh gurunya karena tak mengikuti aturan guru, tapi murid itu berdalih, bukankah pukul 09.00 masih termasuk waktu sekolah? Ya jawabannya murid itu memang benar, tapi salah. Kesalahannya yaitu terdapat pada tidak disiplin dalam waktu.

Salat pun demikian. Allah telah menyuruh kepada kita untuk salat pada waktu yang telah ditentukan. Berarti kalau waktunya salat ya salat. Meskipun waktu salat dzuhur dari pukul 12.00-15.00, bukan berarti kita bisa seenaknya salat kapan saja selama rentang waktu itu. Kira-kira begitulah materi khutbah yang disampaikan khotib.

Gimana, udah kaya Jujun belum nih. Hehe..

Lantas apa korelasinya dengan memanfaatkan waktu? Hubungannya yaitu terdapat pada kedisiplinan dalam waktu. Islam sendiri mengajarkan kepada kita untuk selalu disiplin waktu. Segala sesuatu ada waktunya. Kapan puasa, salat, zakat, naik haji, dzikir yang baik, dan banyak lagi. Kalau kamu kapan nikah? *eh.

Konsep disiplin waktu itu pula yang mestinya diterapkan oleh kita dalam berkegiatan sehari-hari. Maksudnya kita harus punya rencana-rencana kegiatan apa saja yang akan digunakan dalam 24 jam. Agar kita bisa memaksimalkan waktu itu, dan agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.
Banyak hal bisa dilakukan oleh kita dalam memanfaatkan waktu luang. Saya sendiri, dalam memanfaatkan waktu itu digunakan untuk membaca dan menulis. Jadi kalau ada waktu luang, saya berusaha untuk membaca, apalagi saat ini kita sudah dimudahkan dengan kehadiran smartphone. Menulis tidak usah ribet-ribet menggunakan laptop, lewat gawai pun bisa. Asik.

Apalagi kalau semester akhir seperti saya, waktu luangnya banyak sekali. Mengerjakan skripsi ya tidak setiap hari juga digeder. Saya sendiri lebih santai dalam mengerjakan skripsi, maksudnya bukan berleha-leha, tapi lebih ke ngeureuyeuh kalau dalam bahasa Sundanya, yang penting beres sesuai target. Karena otak pun akan jenuh atuh. Makanya sesekali kita selingi dengan hal-hal postif lain selain skripsi. Misalnya nongkrong/kumpul (silaturahim) atau hangout sama kolega. Mumpung masih mahasiswa, masih single lagi, kalau sudah kerja dan nikah bakalan susah biasanya ketemu kawan lama. Tapi nongkrong juga jangan asal ngopi, coba selingi nongkrong dengan diskusi, tentang apa saja.

Belajar robotik dan bahasa pemrograman komputer di sekre Orda Karmapack, Minggu (24/4).


Jalan-jalan sama kolega dan daun ngora ke dataran tinggi yang terkenal di Bandung. :)

Ya intinya adalah mari kita manfaatkan waktu 24 jam ini dengan hal-hal yang produktif! Menghasilkan karya. Biar hidup kita punya prestice yang lebih, maka berkaryalah, maka produktiflah. Jangan sampai waktu kita digunakan untuk hal-hal yang kurang baik. Apalagi kalau kerjaannya tidur, bangun, ngopi, makan, nonton film, tidur lagi, begitu terus. Kalian yang baca tulisan ini bukan termasuk orang macam itu kan?


Friday, April 22, 2016

Kekerasan dalam Pacaran



Pada diskusi publik yang diselenggarakan oleh UKM Women Study Center (WSC) UIN SGD Bandung, Kamis, 21 April 2016, salah seorang pemateri Dr Neng Hannah menyampaikan materi tentang kekerasan dalam pacaran. Tema itu menjadi menarik untuk disimak, sebab selama ini kita hanya tahu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) saja, ternyata dalam lingkup pacaran pun ada.

Istilah itu memang tidak mengada-ngada, sebab berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan pada Maret 2016, menyebutkan bahwa kekerasan dalam pacaran menempati urutan kedua setelah KDRT di Bandung, yakni lebih dari 2.000 kasus (saya lupa lagi angka tepatnya). Data tersebut tentu mesti jadi perhatian bagi kita, sebab sudah bisa dikategorikan sebagai persoalan yang serius.

Neng Hannah memulai materinya dengan sebuah percakapan bersama seorang mahasiswi yang curhat kepadanya tentang pengalaman berpacaran. Perempuan itu bilang, saat ini dirinya ingin dinikahi pacarnya. Lalu Neng Hannah bertanya, mengapa Anda ingin dinikahi? Jawaban perempuan itu mengejutkan, karena pacarnya telah melecehkannya secara seksual.

Lalu keresahan mahasiswi itu mencuat karena setelah dilecehkan secara seksual, pacarnya tiba-tiba lost contact. Padahal pacar mahasiswi itu sudah berjanji akan bertanggung jawab pada semua tindakan yang telah ia lakukan. Saya hanya bisa mengelus dada mendengar yang disampaikan Neng Hannah. Mungkin sebagian di antara kita sudah tidak asing lagi mendengar cerita demikian.

Menurut Neng Hannah, pelecehan seksual bisa termasuk kepada kekerasan dalam pacaran. Sebab biasanya, kegiatan tersebut bisa hasil dari kemauan (paksaan) salah satu pasangan untuk membuktikan seberapa besar cinta yang ia miliki terhadap pasangannya. Selain itu kekerasan dalam pacaran juga terjadi dalam aspek fisik (pemukulan, digampar, dll), psikologis (berkenaan dengan tekanan kejiwaan, misalnya pasangan yang emosionalnya tinggi, keras kepala, egois tinggi, yang membuat kita membatin), dan materi (bisa ketika pasangan kita memaksa membelikan sesuatu).

Mendengar yang disampaikan Neng Hannah saya ketawa sendiri. Kenapa? Karena saya juga pernah mengalami pacaran (catat: pernah bukan sering). Bahkan sering kali, ketika pacaran, untuk pembuktian cinta saya rela hujan-hujanan, panas-panasan untuk antarjemput. Mentraktir makan, atau membelikan sesuatu. Tapi saya tak begitu mempermasalahkan, selama itu masih dalam batas wajar dan kita mampu menyanggupi. Hehe..

Lalu bagaimana solusi kongkrit dari permasalahan kekerasan dalam pacaran? Perlu kita ketahui, bahwa tidak ada regulasi yang mengatur soal kekerasan pacaran, yang ada hanya aturan untuk KDRT. Terus bagaimana? Jawabannya yakni berhentilah untuk pacaran. Mengapa demikian sebab dalam wacana Islam, tidak ada istilah pacaran.

Lalu bagaimana dengan Taaruf? Menurut Neng Hannah, Taaruf memang ada dalam Islam, bertujuan kepada kita untuk saling mengenal satu sama lain. Namun tidak ada fiqih yang menjelaskan secara lebih lanjut bagaimana itu Taaruf dalam konteks berhubungan antara lawan jenis. Sehingga Taaruf sering kali jadi casing berbeda, namun isinya tetap sama dengan pacaran. Artinya hanya beda nama. “Kalau mau menjalin hubungan, lebih baik khitbah,” kata Neng Hannah.

Secara prinsip, saya sepakat dengan yang disampaikan Neng Hannah. Namun ya tetap, dalam konteks sosiologis pacaran sudah menjadi hal yang lumrah, sulit untuk menghindari keberadaannya. Budaya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Lagi-lagi ini kembali kepada diri kita masing-masing bagaimana menyikapi pacaran.

Jika dihadapkan pada persoalan ini, kita memang mesti arif dalam menyikapinya. Menurut saya, pacaran memang kurang baik. Walaupun ada sisi positifnya, tetapi sisi negatifnya lebih banyak. Akan tetapi, karena sudah menjadi hal lumrah, yang sulit untuk dihindarkan di masyarakat, kita perlu membatasi diri pada hal-hal yang positifnya saja. Apa saja itu? Entahlah saya sendiri juga bingung apa hal positif yang dihasilkan dari pacaran. Ketika pacaran sudah merangsek pada hal kurang baik (misalnya kekerasan dalam pacaran) lebih baik kita tanggalkan status pacaran.

Ada yang salah memang dari masyarakat kita, yakni sering kali mengolok-ngolok setiap orang yang tidak pacaran (Baca: jomblo atau single). Padahal stereotype itu tidaklah benar. Menurut saya jomblo atau single pada masa remaja (puber), itu jauh lebih baik daripada kita berpacaran tapi malah terjebak pada hal-hal yang negatif. Bagi saya, yang menjadi persoalan di sini hanya status sosial. Lalu apakah karena kita jomblo/single, tidak bisa mendapat beasiswa, IPK jadi di bawah rata-rata, sulit melamar pekerjaan, tidak punya penghasilan, dll. Kan tidak demikian. Justru yang ada adalah motivasi diri kita makin tinggi, sebagai upaya untuk memantaskan diri meminang lawan jenis.

Teman saya punya konsep berhubungan begini, jika memang di antara kita ada yang suka pada lawan jenis, alangkah lebih baik jika itu diungkapkan. Tapi jangan sampai berujung pada pacaran, karena nantinya setelah pacaran akan ada banyak syarat dan ketentuan yang berlaku. Ketika sudah mengungkapkan perasaan dan respon yang sama suka dari lawan jenis, syukur-syukur langsung mengkhitbah. Tapi kalau belum siap, maka cobalah untuk membuat kesepakatan saling percaya sampai khitbah. Maksudnya adalah dalam proses menuju khitbah itulah masing-masing dari kita berusaha memantaskan diri. Proses taaruf dalam konteks yang benar pun terjadi di sana. Kalau saya menafsirkannya dalam bahasa beken sebagai hubungan tanpa status. Tapi bukan PHP, karena masing-masing sudah memberi kepastian: berkhitbah.

Cara ini memang agak aneh, tapi boleh dijadikan referensi dalam berhubungan. Entahlah saya juga bingung, soal begini saya bukan pakarnya. Tapi yang jelas, perlu saya ulangi dalam wacana Islam, tidak ada yang namanya pacaran. Dan pacaran, karena kehadirannya sudah menjadi hal yang sulit dihindari, kita mesti arif menyikapinya. Jangan sampai kita terjebak pada pacaran yang menimbulkan ekses negatif.

Wallahualam. Terima kasih, semoga menginspirasi.

Tuesday, April 19, 2016

Menulis Catatan Harian



Tahun lalu, ketika aku masih menjadi pengurus Suaka–tepatnya periode 2014-2015–aku sering stalking catatan harian anak Suaka di luar rutinitas mereka menulis berita. Entah itu di blog, tumblr atau sebuah status di media sosial. Tujuanku ada dua kala itu; mengetahui karakter tulisan dan melihat bagaimana perkembangan mereka dalam menulis.
Tapi sayang tidak semua orang suka menulis catatan harian. Begitupun dengan anak Suaka kala itu. Hanya beberapa orang–tak akan disebutkan siapa saja–yang gemar menulis catatan harian. Yang aku tangkap ketika itu, dan sampai sekarang beberapa hal dapat aku simpulkan. Beginilah hasilnya:

Pertama, yang aku ketahui ternyata semakin sering seseorang gemar menulis catatan harian, kemampuan menulis pun makin terasah. Itu terbukti ketika, ada anggota Suaka dulu sering nulis catatan harian panjang, tapi pesan/makna yang disampaikan dari tulisannya belum tersampaikan. Artinya tulisannya masih kosong. Namun sekarang, beberapa yang sering nulis catatan harian, sudah mahir merangkai kata, membuat silogisme, strukturnya renyah, mengalir dan esensinya dapat. Artinya benar bahwa, kesempurnaan itu dihasilkan lewat kebiasaan.

Kedua, ternyata menulis catatan harian mengasah kita untuk menganalisa hal sederhana di keseharian kita untuk dijadikan hal luar biasa. Misalnya, aku siang tadi naik bus Damri. Namun kondisi di bus ketika itu penuh sesak, kemudian jalanan macet, dll. Lalu dari situ kita bisa “meliarkan” pikiran ke fenomena transportasi massal Indonesia dengan kondisi lalu lintas Bandung kenapa bisa macet. Atau contoh lain yang dekat, dosen yang jarang hadir, kemudian di tarik ke runyamnya proses pendidikan, kinerja dosen yang kurang profesional, dan contoh sederhana lainnya. Tentu hal itu bakal menunjang kemampuan kita di bidang jurnalisme. Karena berasal dari keresahan kita, sikap kritis kita, perasaan skeptis, dan yang demikian itu ruhnya seorang jurnalis.

Ketiga, menulis catatan harian–terutama dengan karakter sastrawi, naratif, dan deskriptif–mengasah kemampuan kita membuat feature. Sebab di catatan harian, kita berusaha menggambarkan/menulis ulang kejadian yang telah dilewati untuk bisa divisualkan dalan pikiran pembaca. Misalnya ada anggota Suaka yang baru dari suatu tempat di Bandung, kemudian dia ceritakan bagaimana kondisi tempat itu, runut waktunya, plus dengan suasananya, dll. Ya karakter feature tidak jauh dari seperti itu. Ketika menulis dept news/investigatif news penggambaran suasana liputan, wawancara, raut muka, dan narasi liputan jadi suplemen agar tulisan enak dibaca. Tidak sekedar si A bilang apa, si B bilang begini, lalu ditanggapi oleh si C.

Keempat, dan menjadi kesimpulan terakhir, dengan menulis catatan harian, aku sendiri bisa tahu sejauh mana wawasan seseorang, dan tingkat bacaannya. Sebagai contoh sering kita melihat ada catatan harian, lalu disandarkan pada pendapat seorang. Jika kalian sering membaca kiran “PR” di headline kolom sebelah kiri sering ada tulisan Deddy Mulyana (semoga tidak salah menulis nama) yang kerap kali mengangkat kejadian sederhana di keseharian kita, lalu disandarkan pada fenomena politik, ekonomi, budaya dll Indonesia yang sedang berkembang. Ia juga sering menyandingkan cerita sejarah dulu dan diangkat pada kejadian sekarang.

Ya begitulah kira-kira manfaat menulis catatan harian. Memang tulisan ini hanya pandangan subjektif. Kesimpulan tersebut juga masih dangkal. Tapi semoga bisa bermanfaat agar kita jadi “terangsang” kembali untuk giat menulis catatan harian. Ingat dalam setiap catatan kita nanti, tidak sekedar menulis indah, tapi harus ada pesan apa yang akan disampaikan. Jujur, aku sendiri menulis ini agak kesulitan, sebab sudah jarang nulis, tidak se-instens dulu.

Selamat menulis

Monday, April 18, 2016

Ditinggal Pembuat Langseng, Kampung Kaleng Kini Tertatih-tatih

Sumber foto: Antara


Seorang pria tengah sibuk memukul-mukul besi alumunium. Dengan cekatan, dibentuklah alumunium itu menjadi sebuah langseng. Ukurannya beragam, ada yang dari yang terkecil 5  liter sampai yang terbesar yaitu 20 liter.

Itulah kegiatan sehari-sehari yang dilakukan oleh Mamat Rahmat, 59 tahun, warga Desa Paledang, Kecamatan Cileunyi Kulon, Kabupaten Bandung atau lebih terkenal dengan sebutan Kampung Lanseng. Jika berkunjung ke tempat itu, suara “trang, trang, trang sepanjang jalan” akan menghiasi telinga. Wajar, sejak dulu, warga di kampung itu sudah turun temurun membuat langseng.

Namun, lain dulu lain sekarang, menurut Rahmat, kini keberadaan pembuat langseng semakin sulit di kampungnya. Sebab kebanyakan sudah beralih profesi. “Katanya bosen biki langseng terus, pengen ada suasana baru,” kata Ramhat saat ditemui di kediamannya, Sabtu, 22 Agustus 2015.

Di tempatnya, kata Rahmat, kini sudah sedikit memproduksi langseng sendiri oleh pekerja, dan lebih diberikan kepada pembuat langseng rumahan yang mengambil bahannya dari Rahmat. “Jadi yang sistemnya orang ngambil bahan di sini, nanti udah jadi di balikin, dibayar per langseng,” jelas lelaki berkumis itu.

Menurut Rahmat, dalam sehari tak menentu banyaknya langseng diproduksi, “Kalau manual paling 15-25 set per hari,” ujarnya. Dalam satu set langseng tersebut ada tiga jenis ukuran, yaitu kecil, besar dan kecil. Adapun setiapnya setnya, kata Rahmat dijual sebesar Rp 75.000. “Itu harga asli dari sini, yang jualnya mah beda lagi, tergantung yang jual.”

Rahmat menuturkan, dulu antara tahun 2000-2005, waktu sedang rame-ramenya, setiap rumah memproduksi langseng. Kini, yang tersisa hanya 8-10 rumah produksi yang setiap hari produktif membuat langseng. Hal itu berimbas pada penjualan, sebab persediaan langseng kini menjadi tak tentu karena sulitnya pekerja.

“Kalau dulu, biasanya dalam seminggu 2-3 kali ngirim barang pake truck. Sekarang paling sebulan dua kali ngirim,” kata Rahmat yang sudah memproduksi langseng selama 10 tahun. Untuk menyiasati hal itu, selain menmbuat langseng ia pun berjualan domba.

Selain itu, tertatih-tatihnya usaha langseng Rahmat yakni karena banyak penjual yang mengambil barang darinya tidak setor. Akibatnya, jika dikumpul-kumpul kurang lebih Rp 1 miliar uang setor dari penjual belum juga ia terima. “Mereka pada pesen sekian set, eh ga balik lagi. Malahan, ada yang keluarganya di sini (kampung langseng) belum balik-balik,” ucapnya.

Rahmat mengatakan, pemasaran langsengnya hampir menyebar ke di Indonesia mulai dari Padang, Lombok, Lampung, Pulau Jawa, sampai Papua. Oleh karenya ia tidak sembarangan memberi langseng ke penjual, lebih memilih kepaa orang kenal dan mempunyai jaminan. Selain langseng di “kampong kaleng” itu juga memproduksi panic, kompor, kaleng, oven dan lainnya.

Sejarah dinamai Kampung Langseng, katanya, sudah ada sekitar 20 tahun lalu. Dimulai ketika ada salah seorang warga yang membuat langseng lalu sukses, kemudian diikuti oleh warga lainnya sampai setiap rumah memproduksi langseng. “Waktu itu permintaan langseng sedang banyak juga,” ujarnya.

Untuk membuat langseng sendiri, ada beberapa tahap yang dikerjakan. Pertama sebuah lempeng dibuat pola sesuai dengan ukuran-ukuran. Kemudian dibentuk dengan dipukul-pukul, menjadi sebuah langseng. Makanya, saat berkunjung ke Kampung Langseng, suara-suara “teng, teng, teng” akan selalu terdengar.

Kini, usaha Rahmat beserta rekan-rekannya sesame pembuat langseng sedang tertatih-tatih. Meski begitu ia tetap berharap agar para pembuat langseng di Kampung Langseng tetap ada.